Dewi - Yono, Supir Yang Beruntung 2

Dengan gemas Yono mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, mulutnya mulai bergantian menjilati kedua puting payudara Dewi yang berwarna merah mudah, dengan rakus Yono menjilati dan menghisap-hisap kedua puting tersebut bergantian. Sedang asyik-asyiknya Yono menjilati dan menghisap-hisap serta meremas-remas kedua payudara Dewi, Yono dikagetkan oleh suara yang memanggil-manggilnya.

“Yon, Yon, ehhh..nich orang tidurnya seperti orang mati ajah,” Narti berteriak-teriak membangunkan Yono.

“Bangun..Yon…bangun Yon….,”kembali Narti berteriak membangunkan Yono.

“Hhmmm…hhhmmm….aduuuhhh,” Yono kaget terbangun dari tidurnya, batinnya menjerit kurang ajar hanya mimpi rupanya padahal sedang seru-serunya menghisap dan meremas toket nyonyanya.

“Adaaa apa..sich, orang lagi tidur kok diganggu,”gumam Yono dengan nada kecewa karena mimpi indahnya diganggu.

“Ehhh..marah..tuch..kata nyonya suruh siapin mobil soalnya nyonya mau pergi,”sahut Narti ketus.

“Apaa….sekarang jam berapa,”Tanya Yono.

“Jam 5, tidur melulu sich kerjaannya,”Narti bersungut-sungut marah.

“Ehhh..maaf…yach,”sambung Yono sambil beranjak dari tidurannya lalu cepat-cepat ia ketoilet untuk membasuh mukanya.

Setelah membasuh mukanya, Yono kemudian melanjutkan membuang hajat kecilnya, agak sedikit susah karena kontolnya sedang tegang, ia melihat CDnya basah dan ujung kepala kontolnya masih meneteskan cairan beningnya, setelah hajat kecilnya tuntas ia salurkan, ia kembali kemobil dan mulai menyalakan mobilnya, tak lama berselang Dewi muncul dengan mengenakan rok hitam mini sedikit longgar, dengan belahan dada yang rendah dan bagian punggung yang terbuka, karena roknya model diikat ditengkuknya, sehingga bagian punggung dan pundaknya jadi terbuka, bagian dadanya terlihat membusung kalau lebih diperhatikan jelas-jelas Dewi tidak mengenakan BH itu terlihat dari kedua putingnya yang agak membayang diroknya, serta tidak ada tali BH dipundak ataupun dipunggung yang kelihatan.

“Kemana kita, Bu,” tanya Yono sambil kembali menelan ludah saat melihat ke Dewi yang agak sedikit membungkuk saat naik mobil, sehingga Yono dapat melihat dengan jelas payudara Dewi yang bergelantungan dengan indahnya.

“Kita ke Mall ****,” jawab Dewi.

“Baik, Bu,” sambil mengiyakan Yono mulai meluncurkan mobil ketempat tujuan.

Dalam perjalanan Yono kembali mencuri-curi pandang kearah Dewi lewat kaca spionnya, sementara Dewi sedang asyik membaca majalah, Yono sangat berharap ia dapat melihat kedua bukit kembar Dewi seperti yang ia lihat saat Dewi menaiki mobil, tetapi harapan hanyalah tinggal harapan, sampai di tempat tujuan Yono tidak beruntung dapat melihat kedua bukit kembar Dewi.

“Yon, kamu tunggu saya,”kata Dewi.

“Baik, Bu, nanti kalau sudah selesai ibu panggil saya saja,”jawab Yono.

“Hhmmmm,”Dewi mengiakan.

“Yon, Ini buat makan,”kata Dewi sambil memberikan uang 100ribu.

“Ohh..makasih Bu,”jawab Yono sambil menerima uang pemberian Dewi.

Kemudian Dewipun turun dari mobil dan masuk kedalam mall, sementara Yono mencari parker, setelah memarkirkan mobilnya Yonopun keluar mencari makan. Selesai makan Yono kembali kemobilnya menunggu panggilan nyonyanya sambil kembali membayangkan tubuh Dewi yang aduhai terutama bagian payudaranya yang sudah secara sekilas ia melihatnya. Yono memang lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan para sopir yang menggosipkan majikannya, ia lebih senang menyendiri sambil membayangkan lekuk tubuh Dewi serta kedua bongkahan payudaranya yang indah menggelantung dibagian dadanya.

Sambil mengelus-elus batang kemaluannya yang kembali mulai menegang, maklum usianya masih usia yang tegangan tinggi, jadi hanya cukup dengan membayangkan saja batang kemaluannya langsung berdiri dengan tegak, pemandangan tadi kembali menari dipelupuk matanya, kedua bukit kembar Dewi begitu indahnya menggelayut seolah menanti untuk dijamah dan diremas, ia membayangkan seandainya ia dapat kesempatan untuk menikmati kedua payudaranya itu, dalam hatinya ia hanya menghela nafas, kesempatan itu mungkin tidak akan pernah terkabulkan.

Tapi Yono cukup puas dengan melihat dan membayangkan saja, karena ia masih segan dengan keluarga Hendro terutama dengan nyonyanya yang cantik dan sexy itu, nyonyanya itu menurut penilaian Yono selain cantik dan sexy juga sangat pengertian dan tidak pernah marah, tidak cerewet, menyuruhpun selalu dengan sopan, tidak pernah memandang rendah, tanpa terasa 4 jam sudah ia lewati sambil membayangkan tubuh dan kedua bukit kembar nyonyanya itu. Tiba-tiba HPnya berdering, dengan cepat Yono segera mengangkat HPnya setelah melihat yang memanggil adalah nyonyanya.

“Iya, Bu,” sahut Yono.

“Yon, kamu ke pintu utama, saya menunggu disitu,” jawab Dewi.

“Baik, Bu,” jawab Yono sambil langsung menstart mobilnya dan mengarahkan kepintu utama.

Setibanya dipintu utama ia melihat Dewi sudah menunggu disana, dan ia melihat Dewi membawa banyak kantung belanjaan, Yono segera menepikan mobilnya dan segera turun untuk membantu Dewi memasukkan kantung belanjaan tersebut kedalam mobil, dengan cekatan kantung belanjaan yang banyak itu hanya dalam sekejap sudah masuk kedalam mobilnya, ditutupnya pintu belakang mobil tersebut dan ia segera duduk dibelakang kemudi, kemudian Yono mengarahkan mobilnya keluar area mall tersebut.

“Yon, kita ke hotel x,”kata Dewi.

“Baik, Bu,”jawab Yono, dalam hatinya bertanya-tanya, ini adalah luar biasa, nyonyanya mau pergi kehotel, yang setahu dia hotel ini adalah hotel short time, parkir mobilnya saja langsung dibawah kamar. Yono memang bingung dibuatnya, ada janji sama siapa nyonyanya ini.

Dewi sebetulnya sudah merencanakan semua ini dari rumah, ia yang sudah cukup lama tidak mendapat sentuhan lelaki dan merasakan sodokan-sodokan di lubang vaginanya, semenjak ia melihat tonjolan diselangkangan Yono, gairah birahinya kembali membara, lubang vaginanya mulai merasa gatal ingin segera merasakan sodokan batang kemaluan lelaki dilubang vaginanya. Dengan pertimbangan yang matang akhirnya Dewi memutuskan untuk menikmati batang kemaluan Yono, kalau seandainya Yono setelah melakukan hubungan dengan dia mulai bertingkah macam-macam, Dewi akan segera memecatnya dan menggantinya dengan supir yang baru, tapi kalau Yono tidak bertingkah macam-macam, ia akan terus memperkerjakan Yono sambil sekali-sekali dapat merasakan sodokan-sodokan kontolnya.

Reception hotel tersebut berada diluar sehingga memudahkan orang untuk check-in tanpa perlu turun atau keluar dari mobil, setelah Dewi membayar sewa kamarnya, Dewi menyuruh Yono langsung kekamar yang diberikan oleh receptionist hotel, mobilpun meluncur kekamar hotel tersebut, dengan mengikuti petunjuk dari petugas hotel yang hampir setiap belokan ada, akhirnya mereka sampai di kamar tersebut. Yonopun memarkir mobilnya digarasi kamar tersebut, setelah petugas hotel menutup pintu garasi, Dewi segera turun dari mobil.

“Ayo, Yon, kamu ikut saya,”kata Dewi

“Baaaikk, Bu,”jawab Yono bingung.

“Ada apa yach, kok nyonyanya menyuruh saya untuk ikut turun,”batin Yono bertanya-tanya, tapi karena yang menyuruhnya adalah majikannya, Yonopun mengikuti Dewi, sambil terus bertanya-tanya dan menebak-nebak kenapa majikannya mengajak ia untuk turun dan mengikuti kekamar tersebut.

“Duduk, Yon, kamu mau minum apa?”Dewi berkata setibanya mereka didalam kamar.

“Eh, apa saja Bu,” jawab Yono masih dalam keadaan bingung.

Kemudian Dewi memesan minuman lewat telepon, tak lama berselang minuman tersebut datang, Dewi segera membayar minuman tersebut, dan menyerahkan salah satu minuman tersebut ke Yono.

“Yon, saya minta kamu untuk menjaga rahasia ini, jangan sekali-sekali kamu cerita hal ini kepada siapapun, seandainya saya mendengar kamu membocorkan rahasia ini, saya akan memecat kamu, tapi kalau kamu bisa menjaga rahasia ini, saya akan membuat kamu senang, kamu mengertikan,”Dewi berkata dengan sedikit mengancam.

“Baaikk..Bu, saya janji tidak membocorkan rahasia ibu kepada siapapun,”jawab Yono

“Bagus, saya akan memegang janjimu itu,”kata Dewi

“Ayo minum,”kata Dewi.

Yono hampir tersedak saat meminum minumannya, ia sangat kaget dengan aksi Dewi didepan matanya, ia melihat kedua tangan Dewi dengan lemah gemulai menarik ikatan roknya yang berada ditengkuknya, dengan terlepasnya ikatan dibelakang tengkuk Dewi kedua tali rok tersebut segera meluncur turun dan membuat kedua payudara Dewi tidak tertutup apapun, Yono melihat kedua bukit kembar Dewi dengan mata terbelalak, dengan perlahan dan pasti kontolnya mulai berdiri, tak terbayangkan oleh Yono akhirnya ia dapat melihat dengan jelas kedua bukit kembar Dewi yang putih mulus, perasaannya berkecamuk antara bingung dan tidak percaya, rasanya ia seperti sedang bermimpi, Yono tidak menyangka hal ini akan terjadi.

Didepan mata Yono sekarang Dewi hanya mengenakan CD saja, bentuk tubuh Dewi yang sexy dan kulit yang putih mulus membuat Yono menelan air liurnya berkali-kali, mulutnya terbuka lebar, matanya melotot melihat itu semua. Dalam hatinya ia merasa beruntung sekali dapat menikmati pemandangan ini, kalau hal seperti ini yang harus dijaga kerahasiaannya sudah pasti ia akan menjaga rahasia ini sampai mati.

Dewi yang masih mengenakan CDnya mulai menghampiri Yono yang masih terkesima, diambilnya gelas ditangan Yono dan menaruhnya dimeja, kemudian Dewi menarik tangan Yono untuk berdiri dan menuju kearah tempat tidur, didorongnya tubuh Yono sehingga terlentang diatas tempat tidur, tanpa basa-basi lagi Dewi mulai melucuti celana Yono beserta CDnya, barang pusaka Yono yang sudah tegang terpampang didepan matanya saat Dewi menarik CD Yono, Dewi mulai mengelus-elus batang kemaluan tersebut, bau khas dari batang kemaluan lelaki tercium oleh Dewi membuat dewi semakin bergairah, dengan tangan masih mengelus-elus batang kemaluan tersebut, lidah Dewi mulai bermain dengan lincah menjilati kepala kontolnya, sambil sekali-sekali batang kemaluan tersebut dia kulum-kulum, Yono mendesah kenikmatan, batinnya berkata mimpi apa aku semalam, sehingga kontolku diselomoti dan dijilati oleh nyonyanya yang cantik dan sexy.

“Ooohhh…ooohhh…ssshhhh…aahhhh,”Yono mendesah kenikmatan, matanya merem melek akibat selomotan dan jilatan Dewi dikontolnya.

Yono betul-betul beruntung, bukan saja ia dapat menikmati pemandangan tubuh nyonyanya yang sexy dan mulus secara nyata, tapi ia dapat merasakan bibir nyonyanya yang lembut sedang mengulum-ngulum kontolnya, selama ini ia hanya dapat membayangkan tubuh nyonyanya saja, saat menunggu, saat bermimpi ataupun saat bermain dengan istrinya, tidak pernah bermimpi ia akan merasakan kuluman bibir nyonyanya ini.

Yono hanya dapat terbaring pasrah menikmati kuluman mulut Dewi dikontolnya, Yono hanya dapat
mengangkat pantatnya saat kontolnya itu berada dalam kuluman mulut Dewi, Yono belum berani melakukan hal yang lebih dari itu, tangannyapun belum berani menyentuh rambut dan kepala Dewi, yang dapat ia lakukan hanya meremas sprei tempat tidur saja, dan mulutnyapun hanya mengeluarkan desahan-desahan saja serta lenguhan-lenguhan nikmat.

Yono memang sudah dari tadi sore menahan hasrat nafsunya saat membayangkan tubuh Dewi, dan kontolnya sudah dari tadi ingin merasakan lubang vagina dan gairah birahinya sudah memuncak dari tadi, sehingga saat Dewi mulai mengulum-ngulum serta menjilati dan mengocok kontolnya, Yonopun tidak bertahan lama dengan serangan Dewi tersebut, puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, pendakian bukit kenikmatannya hampir sampai, dengan tubuh yang mengejang dan dengan pantat terangkat seolah menyambut mulut Dewi untuk lebih dalam lagi mengulum kontolnya.

“Aaaaahhhhh….Buuu…aaaakkuu tidak taahann…laaagi…aakuuu…kheeeluuarrr…ooohhh ……ssshhh…aaaahhh…,”Yono melenguh menikmati puncak kenikmatannya.

Cccrrreeetttt…..ccreeeettt….cccrreeeettt…ccreeeett tt…. kontolnya menyemprotkan air maninya kewajah Dewi, Dewi merasakan hangatnya sperma Yono membasahi wajahnya, batang kemaluan Yono mulai Dewi usap-usapkan kewajahnya yang sudah berlepotan air mani Yono, sehingga seluruh wajahnya penuh dengan sperma Yono, seiring dengan semprotan terakhir dari kontolnya Yono, Dewi kembali memasukkan batang kemaluan tersebut kedalam mulutnya dan menghisapnya, sehingga membuat Yono mengejang merasakan nikmat yang sangat luar biasa saat kontolnya menyemprotkan tetes terakhir air maninya tersebut, belum pernah selama ini Yono merasakan nikmat yang sangat hanya dengan kuluman mulut saja, entah karena dia memang selalu membayangkan Dewi atau karena hebatnya permainan mulut Dewi.

Apakah Yono akan lebih beruntung lagi? baca kisah selanjutnya